Aceh yang Austis



Terlahir sebagai Putra Daerah Aceh yang dibesarkan di Kuta Raja. Merasa miris dengan kondisimu saat ini. Terdiri dari 18 Kabupaten yang menyimpan sejuta fenomena alam yang menantang. Namun, “kau” masih malu untuk mengungkapkan jati dirimu. Sudah saatnya mindset masyarakatmu  dirubah demi membuka cakrawala untuk menunjukkan pada dunia betapa tak terhitungnya estetika yang “kau” miliki.

Kondisi ini semakin ironis dengan para diktator yang menganggap dirinya sebagai etnograf senantiasa selalu mencengkrammu. Dibalik peraturan itu “kau” semakin terpuruk diam terbelenggu tak berdaya oleh keganasan masyarakatmu. Sampai kapan “kau” akan terus di etalase dalam ribuan Qanun yang tersirat dalam onggokan buku.

Kini sudah saatnya “kau” berekspansi, menjamah era globallisasi demi mensejahterahkan masyarakatmu. Sudah cukup “kau” bersimpuh di bawah keanggunan histori yang “kau” miliki. Pesonamu menanti ribuan pengunjung tanpa endemic yang menyertainya.

Kekhawatiran asimilasi budaya yang menodaimu “kau” ekspresikan terlalu berlebihan. Slogan Serambi Mekkah yang mengudara, seolah-olah mengekspos bahwa “kau” sebagai tempat ziarah yang suci. Pernahkan terlintas olehmu bahwa, masyarakatmu menyadari akan hal itu. Harusnya ribuan pertanyaan terhujam pada masyarakatmu, sejauh mana mereka telah melestarikan dan membudayakanmu.

Kita sudah di era global, jika masih ingin menutup diri kita akan tenggelam dengan globalisasi. Kemajuan tehnologi kian hari semakin melejit meninggalkan kaum awam yang enggan untuk membenah diri. Pendatang berhamburan menghampirimu memperkosa segala bentuk hak-hak yang harusnya dapat “kau” berikan untuk pribumimu. Tapi apa daya masyarakatmu bertebaran menjadi pengangguran berdasi.

Kau” pasti sangat merasa sedih, hatimu teriris menyanyat sembilu ketika melihat pribumimu hanya menjadi penonton dalam mengelola SDA. Jika memang masyarakatmu tak mampu untuk bersaing, maka tampilkan pesona yang selama ini masih terpendam dalam sosokmu yang sebenarnya  “kau” masih sangat banyak menyimpan panorama alam yang sampai saat ini belum mencuat kepermukaan. Itulah senjata andalanmu dalam merubah kesejahteraan masyarakatmu.

Masihkah “kau” takut dengan akulturasi budaya luar. Sementara saat ini masyarakatmu merogohmu dari dalam yang mencitrakan sisi negatif dari dirimu. Harusnya pemilik rumah menjaga rumahnya agar terasa nyaman untuk dihuni. Tapi lagi-lagi apadaya ketika perut sudah berbicara hal yang tidak wajarpun dianggap logis.

Seperti kata pepatah “logika tanpa logistik maka yang timbul anarkis.” Inilah kondisimu saat ini yang hanya tiggal menunggu serpihan dana dari pusat. Mana putra-putri daerah yang diciptakan dengan segenap prestasi dan kumpulan tropi. Semuanya enggan kembali untuk mendekorasi dirimu demi mewujudkan “kau” yang bermartabat.

Sampai kapan “kau” ingin menjadi Autis, jangan lagi terlelap oleh ninabobo masyarakatmu. Positif thingking dan hilangkan pikiran skeptis untuk berevolusi ke arah yang lebih baik. Ekspektasi terhadap budaya luar yang negatif dapat diminimalisir dengan adanya atensi dan partisipasi masyarakatmu. Bersikaplah wellcome dalam menuai cita dan meraih asa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Warna Tanah

Kelas Kemampuan Lahan