Curahan Hati
Sekelumit Kisah di Kota Malang
Berulang kali mencoba untuk memejamkan mata ini. Sungguh terasa berat, karena sangat sulit untuk menuutpnya walau semenit. Bayangan itu selalu terlintas dan menghantui dalam pikiran yang terobsesi ingin mengakhirinya. Apadaya lagi-lagi rasa optimis itu memudar dikebisuan malam. Segelas kopi selalu setia untuk menemani, ditambah dengan kepulan asap LA Bold yang masuk dan keluar bebas di dalam tenggorokan.
Pagipun tiba, namun kartu remi dengan angka yang tidak beraturan masih tertata rapi di jariku. Posisi duduk yang tepat masih enggan untuk menyapaku. Kembali menghidupkan laptop, mencoba menuangkan inspirasi yang didapat dari permainan semalam. Omomg kosong, semua hanya bualan belaka.Terdiam menatap sebuah karya yang belum rampung dan masih jauh dari kata sempurna.
Jemariku mulai kuletakkan di atas keyboard, tapi masih terlalu kaku untuk digerakkan. Pertanyaan itu masih terus menghujamiku, kapan mau selesai. Arrow atau beberapa stock film yang memenuhi memori laptopku, menjadi pelampiasan untuk melepas kepenatan ini. Lembah Dieng mungkin menjadi tempat yang lebih tepat dalam mengeksekusi kegundahan ini.
Semua menjadi kabur, aku semakin terbuai dengan khayalan yang tak berujung. Mimpi dan angan terus berkecamuk di dalam pikiranku, berlomba untuk menunjukkan jati dirinya. Lamunan ini terkadang membuatku terpedaya dan menjadi lebih terpuruk oleh keadaan.
Stres, mungkin sedikit atau lebih pantas dikatakan depresi. Api mulai kunyalakan lagi untuk menghidupkan kepulan asap yang akan membentuk sebuah pola baru. Untungnya Tupperwer masih tersedia makanan yang selalu standby untuk menetralisir pendemo dalam perutku.
Sesekali berkaca agak sedikit lama melihat warna rambut yang mulai luntur. Bersyukur rambut masih berusaha untuk setia dan enggan untuk meninggalkan rumahnya. Kesetiaan itu diungkapkan secara nyata dengan ukurannya yang semakin memanjang.
Mungkin aku mulai lelah, kata-kata itu yang sangat pantas keluar saat ini. Semangat dalam bentuk saran, mungkin belum aku butuhkan. Terkadang rasa iri datang menghampiri, mengisi kekosongan hati melihat mereka yang hilir mudik sambil tertawa seakan tiada beban.
Cerita ini masih terlalu panjang untuk diakhiri dan aku sendiri tak mampu meramal ujungnya di mana. Petualangan untuk menjelajahi negeriku tercinta masih terseimpan rapi dalam benakku. Hari itu masih terus kunanti dan selalu optimis untuk megukir kisah yang lebih indah dari cerita sebelumnya.
Tesis, cepetan selesai ya, agar kita terbebas dari belenggu tekanan yang mengisi ruang kosong hati ini. Aku muak dengan semua ini, harus selalu menjadi beban buat orang lain. Bukan jalan seperti ini yang aku inginkan, namun aku percaya tuhan melukis kisah ini mengisyaratkan bahwa ”Semua Akan Indah Pada Waktunya.”
Komentar
Posting Komentar