Runtuhnya Era Modern

 

Saya bukan seorang paranormal yang mampu memprediksi segalanya. Hanya berdasarkan fenomena yang ada kita dapat menginterpretasikan gejala perubahan pola hidup. Tak dapat dipungkiri saat ini teknologi menjadi prioritas bagi umat manusia dalam beraktivitas sehari-hari. Tentu hal ini akan sangat menguras energi dari sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui.

Gejolak perihal energi terbarukan baik yang diumbar di media massa maupun dalam debat politik di parlemen, hanya menjadi ilusi semata. Semua jalan di tempat tanpa ada kinerja yang saling bersinergi antara masyarakat dan pemerintah. Lagi-lagi tanpa ada hasil keputusan yang valid penggunaan energi terus berjalan tanpa batas untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Manusia terbuai dengan kecanggihan teknologi yang ditawarkan, Sifat konsumtif masyarakat yang menggunakan teknologi semakin hari terus melejit diambang batas. Manusia begitu bernafsu untuk menguasai segalanya, tanpa mempertimbangkan efek yang ditimbulkan dari keserakahannya. 

Perusahaan raksasa, yang menjadi pemilik modal sekaligus penguasa tidak mampu untuk ditaklukkan oleh peraturan yang ada. Hukum hanya menjadi formalitas semata bagi mereka yang memiliki segalanya. Apadaya energi yang ada di bumi seakan=akan menjadi milik mereka.

Perlu adanya langkah tegas dalam mengantisipasi terkait dengan pancaroba energi di Indonesia. Upaya untuk meminimalisir kelangkaan energi harus dimulai dari atas, untuk mejadi figur bagi masyarakat. Slogan dan tindakan yang ampuh dalam mematahkan matarantai keserakahan manusia harus segera diterapkan.

Energi di Indonesia terus diperkosa oleh mereka yang memiliki  SDM dan modal. Alih-alih ingin berinvestasi hanya menjadi alasan semata dalam menguasai energi yang ada di Indonesia. Masyarakat Indonesia hanya menjadi penonton di rumah sendiri dan tamu yang menjadi tuan rumah dengan semena-mena menggerus segala energi yang ada di Indonesia.

Barang sisa menjadi sesuatu yang bernilai bagi Masyarakat Indonesia. Mungkin itu kata-kata yang tepat untuk masyarakat Indonesia. Bukan ingin melemahkan semangat untuk terus berusaha menjadi lebih baik dari yang lain, namun relaita yang terjadi saat ini kita terus memungut barang sisa hasil pengolahan pihak asing.

Ketika energi itu terkuras habis, maka babak baru akan segera dimulai. Faham determenisme akan segera berjalan kembali. Teknologi akan kehilangan kekuatannya dalam mengeksplor ketersediaan energi.  Kelangkaan akan energi mulai terjadi dimana-mana. Manusia akan mulai meratapi nasibnya untuk melangkah ke era selanjutnya.

Pada saat itu tiba teknologi akan kehilangan nilai gunannya, karena tidak ada pendukung dalam penggunaannya. Mulailah manusia akan menata kembali peradabannya, seyogyanya bayi yang baru terlahir ke dunia yang fana ini. Kayu bakar sebagai sumber energi untuk memasak yang kini sudah ditinggalkan, menjadi akrab kembali dengan masyarakat.

Saat ini manusia boleh angkuh dengan gemerlapnya penerangan pada malam hari, Suatu saat lampu teplok yang saat ini sudah menjadi barang antik, juga akan sirna dari peredaran, karena tidak ada lagi sumber energi untuk menyalakannya. Karyawan dan bangunan pos akan lebih banyak dioperasikan, mengingat penggunaan jasa tersebut nantinya akan menjadi lebih aktif dalam menjalankan roda informasi.

Kehidupan yang sehat dan sederhana mungkin itu akan terwujud setelah masa kejayaaan era modern berakhir. Manusia akan lebih sering menggunakan kakinya untuk melangkah dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Penggunaan bahan kimia dalam tubuh juga akan ikut berkurang dan akan menunjang sistem imun yang lebih kuat. Dokterpun mulai berpikir untuk alih pekerjaan, karena begiru jarangnya manusia yang sakit. Masyarakat akan bersahabat kembali dengan ramuan dan jamu dalam menyelesaikan permasalahan penyakit.

Ketika era itu benar-benar tiba, alam kembali menjadi raja penguasa singgahsana sesungguhnya. Manusia yang angkuh dengan kelebihan yang dimilikinya akan bertekuk lutut pada alam. Manusia akan sangat memanjakan alam, menjaga alam sebagaimana mestinya harus dilakukan dari dahulu.

Penyesalan selalu datang diakhir, namun kata bijak “lebih baik telat daripada tidak sama sekali” mungkin lebih tepat untuk kita sadari saat ini. Mulailah berbenah diri dengan selalu menjaga kestabilan alam. Semua itu tentu tidak akan pernah terwujud apabila masyarakat dan pemerintah tidak saling menyamakan persepsi. Mulailah dari diri kita sendiri.

Komentar

  1. Runtuhnya peradaban kita tidak bisa dihindari.sejarah menunjukkan kemungkinannya, tetapi kita punya keuntungan karena kita bisa belajar dari pengalaman masa lalu.Runtuhnya peradaban dapat didefinisikan sebagai hilangnya populasi, identitas, dan kompleksitas sosial-ekonomi, secara cepat dan permanen. Layanan publik hancur, dan kekacauan terjadi ketika pemerintah kehilangan kendali atas monopoli kekerasan.

    Pada hakekatnya, hampir semua peradaban di masa lalu telah menghadapi nasib ini. Beberapa pulih atau berubah, seperti Cina dan Mesir. Keruntuhan lainnya permanen, seperti di Pulau Paskah.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Warna Tanah

Kelas Kemampuan Lahan