Sabang Sebagai Kota Wisata

Tantangan dan Peluang Pengembangan Wisata Bahari di Aceh

Dewasa ini sektor kepariwisataan merupakan suatu sektor yang menguntungkan baik bagi pemerintahan suatu daerah maupun keuntungan bagi masyarakat tertentu serta keuntungan bagi masyarakat pada umumnya. Sektor kepariwisataan diharapkan mampu membangun suatu motivasi bagi masyarakat dalam rangka mendorong pertumbuhan sektor ekonomi, terutama sekali daerah-daerah atau wilayah yang sumber daya alamnya mendukung juga untuk pengembangan sektor kepariwisaataan. Kedudukan atau letak daerah secara geografis yang dapat diwujudkan untuk lokasi atau pengembangan wilayah wisata ini sangat tergantung dari keseriusan pemerintah setempat. Pembangunan Sumber Daya Manusia dalam hal ini sangat diperlukan, yaitu untuk meningkatkan kualitasnya sehingga dapat mendukung pembangunan ekonomi melalui peningkatan produktifitas, khususnya dalam bidang kepariwisataan.

Pada saat ini, kegiatan wisata adalah sebuah keniscayaan. Berbagai alat transportasi telah memudahkan seseorang untuk melakukan perjalanan dari suatu daerah ke daerah yang lain. Agar dapat disebut sebagai wisatawan (tourist), seseorang haruslah melakukan perjalanan. walaupun demikian, tidaklah semua yang melakukan perjalanan dapat disebut sebagai wisatawan. Menurut I Gde Pitana, definisi tehnikal dari wisatawan secara umum harus mencakup; (1) tujuan perjalanan, (2) jarak/batas perjalanan, (3) durasi atau waktu perjalanan, dan yang ke empat (4) tempat tinggal orang yang melakukan perjalanan. Suatu perjalanan dapat disebut sebagai perjalanan wisata jika seseorang melakukan perjalanan ke luar daerahnya adalah untuk melihat dan menemukan sesuatu yang “unik”. Keunikan yang dimaksud di sini adalah sesuatu yang dilihat tersebut; (1) berbeda dengan yang ada di daerahnya, (2) mempunyai nilai dan makna sejarah, dan (3) sesuatu yang “unik” itu seharusnya menyenangkan hati si pelancong.

Wisata Bahari

Pariwisata yang berhubungan dengan perjalanan untuk rekreasi, pelancongan, turisme. wisata bahari yaitu pariwisata yang objeknya adalah laut dan isinya (berperahu, berselancar, menyelam dan sebaginya). Menurut KBBI, pariwisata atau turisme adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk rekreasi atau liburan, dan juga persiapan yang dilakukan untuk aktivitas ini. Seorang wisatawan atau turis adalah seseorang yang melakukan perjalanan paling tidak sejauh 80 km (50 mil) dari rumahnya dengan tujuan rekreasi, merupakan definisi oleh Organisasi Pariwisata Dunia.

Pemerintah Aceh bertekad meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing dan nusantara dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor pada masa mendatang. “Pencanangan ’Visit Aceh Year 2013” merupakan langkah awal untuk menggenjot jumlah tamu dalam dan luar negeri untuk datang menikmati berbagai keindahan wisata alam di provinsi ini. Aceh memiliki banyak kekayaan selain minyak dan gas yang belum tergarap maksimal salah satunya sektor wisata yang tersebar di 23 kabupaten/kota di provinsi ujung paling barat Indonesia itu.

Pemanfaatan secara maksimal berbagai potensi wisata di Aceh akan mampu mendatangkan banyak tamu yang nantinya berdampak terhadap sektor ekonomi lainnya. Sektor ekonomi bidang wisata merupakan salah satu sumber daya alam yang tidak akan pernah habis dibanding gas dan minyak bumi, sehingga perlu terus dioptimalkan berbagai potensi wisata (Kompas.com). Salah satu kota di Aceh yang berpotensi besar dalam wisata bahari adalah Kota Sabang. Kota ini merupakan wilayah kepualauan, berada di seberang Utara Pulau Sumatera. Kota yang luasnya 153 km, terdiri dari lima pulau, yaitu pulau weh, pulau Klah, pulau Seulako, pulau Rubiah dan pulau Rondo, dengan pulau weh sebagai pulau terbesar.

Sebagaimana diketahui, Sabang merupakan suatu wilayah yang sangat berpotensi dalam pengembangan dunia kepariwisataan. wilayah Sabang sebagai awal batas atau wilayah paling ujung pulau Sumatra dan juga sering disebut sebagai Kilometer Nol. Saat ini menjadi primadona bagi pemerintah Kota Sabang dalam membangun industri kepariwisataannya. wilayah Sabang yang masih dalam kawasan Propinsi Aceh, tentu masyarakatnya Muslim (Islam) hampir seluruhnya. Jauh sebelum Syariat Islam berlaku di Aceh, semangat Islam telah terpantul di dalam seluruh unsur kebudayaan orang Aceh. Agama Islam yang menjadi fokus kebudayaan Aceh telah memberi warna terhadap unsur-unsur kebudayaan universal. Karenanya, dalam konteks pengembangan industri kepariwisataan di Aceh khususnya  di Kota Sabang dalam penelitian ini, “Keunikan” Sabang yang akan dijual sebagai daya pikat utama bagi wisatawan untuk datang ke Aceh/Sabang adalah Pemandangan Alam dan Alam pantai Sabang, yang ini tidak ditemui di daerah lain.


Gambar Tugu Nol Kilometer Indonesia

Melihat kenyataan di atas, wilayah Sabang yang menjadi salah satu tujuan wisata baik lokal maupun manca negara, tentunya memberikan suatu kontribusi bagi masyarakat terutama sekali masyarakat Sabang pada khususnya dan masyarakat Aceh pada umumnya. Di satu sisi masyarakat mempunyai peluang untuk meningkatkan sektor perekonomiannya dengan adanya industri pariwisata, namun di sisi lain juga menghadapi tantangan dalam pelaksanaan dunia wisata di Kota Sabang. Tentunya ini harus disikapi oleh pihak-pihak yang terkait, khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Wisata itu sendiri sering kali konotasinya negatif, yaitu hal-hal yang dilarang dalam agama banyak terjadi kalau daerah itu diberlakukan atau digalakkan sebagai lokasi atau tempat wisata, ini terjadi dikarenakan pemahaman tentang wisata/kepariwisataan masih dangkal, masyarakat atau beberapa pihak terkait dalam kepemerintahan kota Sabang masih pemahamannya demikian, tapi pihaknya terus berupaya untuk bekerjasama dalam pembangunan khususnya sektor pariwisata.

Kesulitan dalam pelaksanaan Sabang sebagai Kota wisata, dikarenakan bahwa pada umumnya yang datang ke Sabang adalah untuk rekreasi atau mencari angin segar, melepaskan kepenatan dan juga ingin bebas. Tapi pihak yang berwenang terus berupaya untuk membuat baliho-baliho, atau semacam imbauan-imbauan yang ditata secara rapi dalam kota Sabang yang menunjukkan bahwa Kota Sabang sebagai kota wisata Alam dan Bahari khususnya, dan juga berupaya membuat baliho-baliho atau semacam imbauan yang mengajak masyarakat setempat dan wisatawan untuk menghargai dan melaksanakan syariat Islam di Sabang. Karena razia-razia yang dilakukan selama ini oleh pihak terkait (personil wH Kota Sabang) nampaknya kurang efektif dan tidak ada solusi yang tuntas. Dalam mempromosikan Sabang Sebagai Kota wisata pihak dinas terkait sedang berupaya untuk mengalokasikan tempat-tempat khusus bagi pariwisata, terutama wisatawan- wisatawan manca negara (non-Muslim) karena semua wisatawan punya keinginan masing-masing baik yang lokal maupun manca negara.

Dengan adanya pengembangan Kota Sabang sebagai Kota wisata maka masyarakatpun menjadi meningkat dari taraf perekonomiannya, artinya masyarakat sabang  baik  pendapatan dan serapan tenaga kerja makin terbuka kesempatannya. Sabang sangat cocok dikembangkan wisata alam dan bahari, karena alam darat dan alam laut sangat mendukung ke arah itu. Ini merupakan prospek tercerahkan bagi pemerintah kota Sabang dan masyarakat Sabang. Adapun tantangan yang dihadapi adalah kurangnya pemahaman tentang Syariat Islam, karena dipandang kepariwisataan itu banyak yang tidak sesuai dengan Syariat Islam, dan wisata itu seakan-akan berkonotasi negatif. Namun harus juga dibarengi dengan penambahan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan keagamaan Islam. Dalam rangka peningkatan pemahaman keagamaan bagi warga Sabang, hendaknya ada penambahan sumber daya manusia yang paham tentang agama Islam dan ini yang dirasakan kurang selama ini.

Daftar Pustaka

Departeman Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), hal. 830.

I Gede Pitana, Pengantar Ilmu Pariwisata, (Yogyakarta: Andi Press, 2009), hal. 41

Kompas.com, Banda Aceh, 21 September 2012

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Warna Tanah

Kelas Kemampuan Lahan